KEPULAUAN RIAU — Transformasi PSG dimulai dari pertanyaan fundamental yang mengubah segalanya. Alih-alih bertanya bagaimana cara memenangkan Liga Champions, petinggi klub mulai merumuskan, "What kind of football do we want to play?" Jawabannya: sepak bola menyerang dengan pemain Prancis sebagai intinya.
Dari Kekacauan ke Fondasi Kolektif
Sebelum era Qatar Sports Investments (QSI) pada 2011, PSG adalah raksasa yang tertidur. Mereka finis di peringkat ke-13 Ligue 1 pada musim sebelumnya, dan Al-Khelaifi bahkan sempat khawatir akan membeli klub divisi dua. Stadion Parc des Princes kehilangan suporter ultrasnya selama lima tahun pertama setelah insiden kekerasan yang menewaskan seorang fans.
Fase awal kepemilikan QSI ditandai dengan pembelanjaan agresif. Para kritikus menyebutnya 'bling-bling era', namun secara internal hal itu dipandang sebagai jalan tercepat menuju puncak. Kedatangan Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi memang memaksa dunia sepak bola memperhatikan PSG.
Kekacauan di Balik Dominasi Domestik
Dominasi di Prancis dan lolos jauh di Liga Champions tidak datang tanpa ongkos. Para bintang mendikte dinamika ruang ganti, memengaruhi keputusan taktis, dan kerap bertengkar soal jadwal latihan atau siapa yang berhak mengeksekusi penalti. Mbappe muda dan keluarganya meminta jaminan bermain di setiap pertandingan saat memilih PSG dibanding Real Madrid. Sementara Neymar memiliki klausul kontrak yang memberinya kekuasaan untuk memutuskan tidak bepergian ke beberapa laga.
Ketika legenda basket Kobe Bryant mengunjungi tempat latihan lama, Neymar dan Mbappe ingin mengubah jadwal yang sudah disiapkan pelatih Unai Emery. Mereka ingin berlatih demi mengesankan Kobe, tapi Emery memenangkan pertarungan itu. "But those clashes left scars," tulis Guillem Balague dalam analisisnya.
Luis Enrique dan Revolusi Disiplin
Era baru dimulai dengan menyingkirkan ikon-ikon masa lalu: Messi, Neymar, Mbappe, Marco Verratti, dan Sergio Ramos. Klub tidak menghukum mereka, melainkan perlu mereset ulang prioritas. Tidak ada pemain yang boleh berada di atas tim.
Luis Enrique, pelatih yang dipilih setelah identitas sepak bola ditetapkan, langsung menerapkan disiplin. Ia meminta Mbappe bekerja lebih keras, dan ketika permintaan itu diabaikan, ia merasa lega melihat sang bintang hengkang. Momen paling simbolis terjadi akhir September lalu: Ousmane Dembele terlambat 10 menit ke latihan sebelum laga Liga Champions melawan Arsenal. Enrique langsung mencoretnya. Dembele kemudian memenangkan Ballon d'Or 2025.
Hasilnya terlihat dari detail kecil. PSG menjadi tim dengan kartu kuning paling sedikit di liga-liga top Eropa. Para pemain berhenti berdebat dengan wasit, meninggalkan akting berlebihan, dan merangkul pendekatan disiplin yang bersatu.