KEPULAUAN RIAU — Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai momen. Dalam episode ketiga serial dokumenter Pulisic, bintang AC Milan itu duduk di meja makan dan temannya bertanya, "Sekarang jam apa?" Pulisic menjawab, "Waktu Alkitab," sambil membuka kitab sucinya. Kalung salib selalu tergantung di lehernya.
Weston McKennie, gelandang Juventus, hanya menulis "All glory to God" di bio Instagram-nya. Bek Chris Richards juga blak-blakan. Ia pernah bercerita bahwa ia dan sekitar 10 pemain Crystal Palace berdoa bersama sebelum pertandingan dan mengadakan pendalaman Alkitab.
Kiper Matt Freese, seorang Katolik taat, bahkan mengaku sudah bertemu Pulisic dalam sesi studi Alkitab sebelum bergabung dengan USMNT. Pelatih Mauricio Pochettino, yang juga Katolik, nyaris selalu memakai gelang bergambar santo pelindung. Saat menangani Espanyol pada 2009, ia mendaki 12 kilometer ke tempat ziarah Montserrat untuk berdoa agar klubnya selamat dari degradasi—dan hasilnya sesuai harapan.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, keragaman keyakinan tim terlihat jelas. Walker Zimmerman, putra seorang pendeta, aktif menyebarkan imannya. Yunus Musah, seorang Muslim, tetap berpuasa di bulan Ramadan meski hari pertandingan. Sementara DeAndre Yedlin, penganut Buddha, memimpin beberapa rekan setimnya melakukan meditasi tanpa alas kaki di lapangan setelah setiap laga.
Ini kontras tajam dengan era sebelumnya. Clint Dempsey hanya memberi satu wawancara tentang imannya ke Sports Spectrum sekitar Piala Dunia 2014. Tim Howard adalah anggota Fellowship of Christian Athletes, tapi jarang bicara soal keyakinannya. Jozy Altidore baru mengaku dibesarkan sebagai Saksi Yehuwa di akhir kariernya. Landon Donovan diketahui sebagai seorang ateis.
"Kami tidak tahu apakah Cobi Jones, Tab Ramos, Alexi Lalas, atau Marcelo Balboa percaya pada Tuhan," tulis laporan tersebut. Begitu pula Michael Bradley dan DaMarcus Beasley. Keterbukaan kini terjadi di tengah lanskap politik AS di mana partai yang berkuasa kerap menggunakan religiusitas untuk kepentingan politik.
Para pemain USMNT saat ini dianggap tulus dalam menyatakan keyakinan mereka. Mereka bergabung dengan generasi atlet profesional Amerika yang merasa lebih bebas mengekspresikan pandangan dibanding pendahulu mereka. Namun, memanfaatkan sorotan Piala Dunia untuk menyebarkan ajaran agama juga dianggap mengaburkan batas kenetralan olahraga nasional.
US Soccer sendiri pernah melarang aksi berlutut saat lagu kebangsaan berkumandang, sebelum mencabut larangan itu tiga tahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa berekspresi dengan seragam tim nasional memiliki aturan yang berbeda dibandingkan dengan klub. Meski begitu, kepercayaan diri para pemain untuk menjadi diri mereka sepenuhnya di panggung terbesar dinilai sebagai perkembangan positif bagi sepak bola Amerika.