BATAM — Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika politik akibat konflik bersenjata di sejumlah kawasan, kinerja ekspor Kepulauan Riau justru menunjukkan tren positif pada awal tahun ini. Data terbaru BPS Kepri mengungkapkan, nilai ekspor kumulatif sepanjang Caturwulan I 2026 mencapai angka fantastis, menandakan daya tarik provinsi ini bagi investor asing masih kuat.
Lonjakan Ekspor Migas Capai 24,48 Persen
Peningkatan ekspor Januari-April 2026 dibanding tahun lalu terutama didorong oleh sektor migas yang tumbuh signifikan. BPS mencatat, ekspor migas Kepri naik 24,48 persen dari US$1.378,98 juta menjadi US$1.716,58 juta. Sektor ini menjadi kontributor utama percepatan pertumbuhan ekspor daerah.
Sementara itu, sektor nonmigas juga mencatatkan kenaikan, meski tidak setinggi migas. Pada April 2026, ekspor nonmigas tumbuh 4,34 persen dibanding April 2025. Kombinasi keduanya membuat total ekspor April 2026 melesat 13,92 persen year-on-year menjadi US$2.282,23 juta.
Kinerja Bulanan: April Jadi Bulan Tertinggi
Jika dirinci per bulan, nilai ekspor Kepri terus merangkak naik sepanjang awal tahun. Januari 2026 tercatat US$2.022,25 juta, lalu sedikit turun di Februari menjadi US$1,94 miliar. Memasuki Maret, angka kembali naik ke US$2.071,18 juta, dan puncaknya terjadi pada April dengan nilai US$2.282,23 juta atau setara Rp41,2 triliun.
Pola ini menunjukkan akselerasi aktivitas ekspor yang semakin kuat menjelang pertengahan tahun. Kenaikan signifikan di April, menurut data BPS, disebabkan oleh peningkatan ekspor migas yang mencapai 57,43 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu.
Apa Artinya bagi Perekonomian Kepri?
Capaian ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kepri yang sangat bergantung pada sektor perdagangan internasional. Dengan nilai kumulatif Rp150,5 triliun hanya dalam empat bulan, Kepri dipastikan tetap menjadi salah satu lumbung devisa nasional dari sektor ekspor.
Namun, ketergantungan yang tinggi pada sektor migas juga menjadi catatan tersendiri. Fluktuasi harga minyak dunia dan kebijakan energi global bisa sewaktu-waktu mempengaruhi kinerja ekspor daerah ke depannya. Pemerintah daerah diharapkan terus mendorong diversifikasi produk ekspor nonmigas guna menjaga stabilitas pertumbuhan jangka panjang. (*/Martunas)