KEPULAUAN RIAU — BRI Danareksa Sekuritas mencatat, aksi jual bersih (net foreign sell) di saham BBCA sepanjang tahun berjalan (year to date) sudah mencapai Rp31,34 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa investor asing masih dalam mode pengurangan kepemilikan secara agresif.
Dalam riset yang dirilis akhir pekan lalu, analis BRI Danareksa menyebutkan bahwa pola grafik mingguan BBCA telah mengonfirmasi formasi Head & Shoulders—sebuah pola klasik yang mengindikasikan pembalikan arah dari tren naik ke tren turun. "Tekanan jual masih dominan, terlihat dari peningkatan volume saat harga turun dan MACD yang masih bergerak negatif," tulis mereka.
Menurut BRI Danareksa, level Rp4.775 hingga Rp4.100 kini menjadi area support terkuat yang harus dipertahankan. Jika tembus ke bawah level tersebut, potensi koreksi lebih dalam terbuka lebar. Sebaliknya, untuk keluar dari tekanan bearish, harga BBCA perlu kembali naik ke atas level Rp5.700–6.000. "Selama belum mampu kembali ke atas 5.700–6.000, tren turun masih mendominasi," tegas riset tersebut.
Pada perdagangan Jumat (5/6) lalu, saham BBCA ambles 6,45 persen dalam sehari. Dalam sepekan, koreksinya mencapai 10,96 persen, dan dalam sebulan terakhir turun 14,71 persen.
Meski kinerja jangka pendek suram, dalam 10 tahun terakhir saham BBCA masih mencatat kenaikan 93,33 persen. Namun, jika dilihat dalam rentang tiga tahun, posisi saham ini sudah turun 44,84 persen. Dalam lima tahun, koreksinya mencapai 22,87 persen.
Penurunan ini menjadi pengingat bahwa sekalipun saham berkapitalisasi besar seperti BCA, tekanan makro dan arus modal asing bisa menggerus nilai investasi secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Investor ritel disarankan mencermati level support kritis sebelum mengambil posisi baru di saham perbankan ini.