BATAM — Petani di enam kecamatan di Batam mulai menerima pasokan pupuk subsidi setelah DKPP Kota Batam memastikan pendistribusian dilakukan secara bertahap. Kepala DKPP Kota Batam Mardanis mengatakan alokasi tahun 2026 mencapai 145 ton pupuk, terdiri dari 15 ton urea, 60 ton NPK, dan 70 ton pupuk organik.
Penyaluran perdana dilakukan di Kecamatan Sagulung pada Sabtu (23/5) pekan lalu. Menurut Mardanis, sebanyak 3.200 kilogram urea dan 15.300 kilogram NPK sudah tiba di gudang Batam untuk segera dikemas dan disalurkan ke kelompok tani setempat.
Petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) bisa membeli pupuk dengan harga jauh di bawah pasar. Urea dibanderol Rp 1.800 per kilogram, sementara NPK Rp 1.840 per kilogram. Harga ini berlaku untuk seluruh petani di enam kecamatan sasaran: Bulang, Sagulung, Batuaji, Galang, Nongsa, dan Sei Beduk.
Mardanis menjelaskan bahwa alokasi pupuk untuk setiap wilayah disesuaikan dengan proporsi usulan dari masing-masing kelompok tani. “Yang mengajukan RDKK lebih banyak tentu akan mendapat alokasi lebih banyak juga karena pembagian disesuaikan dengan proporsi kebutuhan,” katanya.
Meski distribusi tahap awal sudah berjalan, DKPP Batam mengakui belum semua jenis pupuk bisa segera diterima petani. Stok pupuk organik hingga saat ini masih belum tersedia di gudang Tanjungpinang, sehingga pengiriman ke Batam masih menunggu.
Selain itu, Mardanis menyebut perubahan standar operasional prosedur (SOP) pendistribusian turut mempengaruhi realisasi penyaluran secara keseluruhan. “Hingga saat ini distribusi pupuk subsidi belum sepenuhnya terealisasi karena adanya perubahan SOP,” ujarnya.
DKPP Batam berharap seluruh kelompok tani di enam kecamatan segera melengkapi RDKK agar alokasi pupuk bisa dimaksimalkan. Pasalnya, jumlah pupuk yang diterima setiap wilayah sangat bergantung pada usulan yang masuk. Semakin lengkap data kebutuhan petani, semakin besar peluang mendapatkan jatah sesuai musim tanam.
Penyaluran bertahap ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan petani selama masa tanam mendatang, meski masih ada sejumlah kendala logistik dan administrasi yang harus dirampungkan.