KEPULAUAN RIAU — Pengujian teknologi pengisian cepat Megawatt Flash Charge dari BYD menunjukkan suhu baterai mencapai 169°F (sekitar 76°C), jauh di atas batas aman yang direkomendasikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan baterai mobil listrik di Indonesia dan global.
Dalam pengujian yang dilakukan oleh seorang blogger otomotif yang disiarkan langsung, suhu baterai lithium iron phosphate BYD mengalami lonjakan signifikan saat pengisian daya. Suhu ini melebihi batas aman yang ditetapkan di China, yaitu 149°F (65°C), dan berpotensi merusak komponen penting dalam baterai. Dengan semakin banyaknya mobil listrik yang beredar, isu ini menjadi perhatian penting bagi pengguna di Indonesia yang mengadopsi teknologi EV.
Suhu tinggi dapat merusak lapisan Solid Electrolyte Interphase (SEI) pada baterai, yang berfungsi melindungi elektrolit dari kontak langsung dengan anoda. Para ahli menjelaskan bahwa lapisan ini mulai mengalami kerusakan pada suhu di atas 158°F (70°C). Dengan pengisian daya yang sering dilakukan dalam kondisi suhu tinggi, ini dapat mempercepat penurunan kesehatan baterai dan mengurangi umur pakainya.
Menanggapi isu ini, BYD mengklaim telah mempersiapkan solusi dengan menawarkan garansi seumur hidup untuk sel baterai mereka. Saat memperkenalkan generasi kedua Blade Battery, perusahaan ini juga menunjukkan bahwa standar retensi kapasitas meningkat sebesar 2,5% dibandingkan generasi sebelumnya. Demonstrasi ketahanan baterai juga dilakukan dengan cara menyambungkan empat sel secara sengaja dan membiarkannya dalam kondisi tersebut selama 24 jam tanpa kebakaran atau ledakan.
BYD bukan satu-satunya yang mengembangkan teknologi pengisian cepat. Perusahaan-perusahaan seperti CATL dan Geely juga telah mengembangkan platform baterai dengan laju pengisian yang melebihi performa megawatt BYD. Dengan kompetisi yang semakin ketat, tantangan untuk mengelola suhu tanpa mengorbankan umur baterai menjadi sangat penting. CATL, misalnya, mengklaim telah menemukan solusi dengan baterai lithium-ion 5C yang belum tersedia di pasar.
Pengguna kendaraan listrik di Indonesia, yang semakin meningkat, perlu menyadari potensi risiko terkait pengisian cepat ini. Dengan meningkatnya permintaan akan kendaraan ramah lingkungan, pemahaman lebih dalam tentang kesehatan baterai dan dampak suhu tinggi menjadi krusial bagi konsumen dan produsen.
Belum ada informasi resmi mengenai kapan teknologi Megawatt Flash Charge BYD akan tersedia secara luas di pasar Indonesia. Namun, dengan minat yang terus meningkat terhadap kendaraan listrik, kemungkinan besar peluncuran akan segera terjadi seiring dengan perkembangan infrastruktur pengisian.
Suhu baterai dapat meningkat akibat pengisian daya yang sangat cepat, yang memberikan tekanan lebih pada komponen baterai, terutama lapisan pelindung.
BYD menawarkan garansi seumur hidup untuk sel baterai dan mengklaim bahwa generasi terbaru dari Blade Battery memiliki peningkatan dalam retensi kapasitas.
Perusahaan seperti CATL telah mengembangkan baterai dengan teknologi baru yang bertujuan untuk mengatasi masalah suhu tinggi dan meningkatkan umur baterai.