Uber Siapkan Jutaan Mobil Driver Jadi Sensor Data Mobil Otonom

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:35:04 WIB
Uber siapkan jutaan mobil mitra pengemudi sebagai sensor data untuk teknologi mobil otonom.

Uber berencana melengkapi jutaan kendaraan mitra pengemudinya dengan sensor khusus untuk mengumpulkan data real-world bagi pengembangan teknologi mobil otonom secara global. Langkah strategis ini bertujuan memecahkan hambatan ketersediaan data yang selama ini membatasi kemajuan kecerdasan buatan di jalan raya. Inovasi tersebut berpotensi mengubah lanskap industri transportasi digital, termasuk dampaknya bagi ekosistem ride-hailing di Indonesia.

Raksasa transportasi global Uber baru saja mengungkap ambisi besarnya untuk bertransformasi menjadi penyedia data utama bagi industri kendaraan otonom (AV). Perusahaan berencana memanfaatkan jutaan mobil mitra pengemudinya di seluruh dunia sebagai jaringan sensor berjalan untuk merekam berbagai skenario lalu lintas di dunia nyata.

Rencana ini diungkapkan langsung oleh Chief Technology Officer Uber, Praveen Neppalli Naga, dalam sebuah sesi wawancara di acara StrictlyVC milik TechCrunch di San Francisco, Kamis (13/2) malam waktu setempat. Naga menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan perluasan dari program "AV Labs" yang baru saja diperkenalkan Uber pada akhir Januari lalu.

Visi jangka panjang Uber kini melampaui sekadar mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Perusahaan ingin memasang perangkat sensor pada mobil pengemudi manusia untuk menyerap data lingkungan secara masif. Data ini nantinya akan dijual atau dibagikan kepada perusahaan pengembang mobil otonom serta perusahaan lain yang sedang melatih model kecerdasan buatan (AI) berbasis skenario fisik.

Mengatasi Kemacetan Data di Industri AI

Menurut Naga, kendala utama dalam pengembangan teknologi kemudi otomatis saat ini bukan lagi terletak pada perangkat lunak dasarnya, melainkan pada ketersediaan data. Perusahaan seperti Waymo seringkali kesulitan mengumpulkan data di lokasi atau waktu spesifik secara efisien karena terbatasnya armada yang mereka miliki.

"Hambatannya adalah data," ujar Naga dalam wawancara tersebut. Ia memberikan ilustrasi bahwa pengembang mungkin membutuhkan data spesifik pada jam tertentu di persimpangan sekolah di kota besar untuk melatih model AI mereka. Masalahnya, biaya untuk mengerahkan armada khusus hanya demi mengumpulkan informasi tersebut sangatlah mahal.

Di sinilah Uber masuk dengan keunggulan skalanya. Dengan jutaan pengemudi yang sudah beroperasi di berbagai belahan dunia, Uber memiliki jangkauan yang tidak bisa ditandingi oleh perusahaan otomotif manapun. Jika hanya sebagian kecil dari armada ini dipasangi sensor, Uber akan memiliki platform pengumpulan data terbesar di dunia.

Membangun "AV Cloud" untuk Masa Depan

Strategi ini menandai pergeseran arah Uber yang cukup signifikan. Beberapa tahun lalu, Uber sempat menghentikan ambisinya untuk membangun mobil otonom sendiri—sebuah keputusan yang sempat disesali oleh sang pendiri, Travis Kalanick. Namun, dengan menjadi "lapisan data" bagi seluruh ekosistem, Uber justru menempatkan diri pada posisi yang lebih strategis.

Saat ini, Uber telah menjalin kemitraan dengan 25 perusahaan teknologi otonom, termasuk Wayve yang berbasis di London. Uber sedang membangun apa yang disebut Naga sebagai "AV Cloud", sebuah perpustakaan data sensor terlabel yang dapat diakses oleh mitra untuk melatih model mereka.

Fitur menarik dari sistem ini adalah kemampuan menjalankan model AI dalam "shadow mode". Artinya, perangkat lunak mobil otonom milik mitra dapat diuji secara virtual pada perjalanan nyata yang dilakukan pengemudi Uber, tanpa benar-benar mengambil alih kendali mobil. Hal ini memungkinkan pengujian keamanan tingkat tinggi tanpa risiko kecelakaan di jalan raya.

Apa Artinya untuk Pengguna dan Driver di Indonesia?

Meskipun program ini dimulai di Amerika Serikat dan Eropa, dampaknya bagi pasar Indonesia sangat relevan. Indonesia memiliki karakteristik lalu lintas yang unik dan kompleks, yang seringkali menjadi tantangan besar bagi algoritma mobil otonom global. Jika Uber menerapkan teknologi sensor ini pada armada lokal, data dari jalanan Jakarta atau Surabaya bisa menjadi komoditas berharga untuk melatih AI agar lebih memahami perilaku berkendara di Asia Tenggara.

Bagi mitra pengemudi, inisiatif ini membuka peluang baru di masa depan:

  • Potensi Pendapatan Tambahan: Pengemudi mungkin akan mendapatkan insentif dengan membiarkan kendaraan mereka dipasangi perangkat sensor data.
  • Peningkatan Keamanan: Sensor canggih yang terpasang dapat berfungsi sebagai asisten pengemudi yang meningkatkan aspek keselamatan selama perjalanan.
  • Efisiensi Rute: Data yang lebih presisi akan menghasilkan sistem navigasi yang jauh lebih akurat dibandingkan GPS standar saat ini.

Naga menegaskan bahwa tujuan awal Uber bukanlah semata-mata mencari keuntungan dari penjualan data ini. "Tujuan kami bukan untuk menghasilkan uang dari data ini. Kami ingin mendemokrasikannya," kata Naga. Meski demikian, posisi Uber sebagai pemilik data eksklusif di skala global dipastikan akan memberikan pengaruh besar terhadap arah industri transportasi di masa depan.

Langkah ini sekaligus menjawab keraguan banyak pihak mengenai relevansi Uber di masa depan. Dengan menyediakan infrastruktur data, Uber memastikan diri tetap menjadi pemain kunci, bahkan ketika kemudi mobil nantinya tidak lagi dipegang oleh manusia.

Reporter: Redaksi
Back to top