TANJUNGPINANG — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sejak awal tahun masih menghadapi tantangan partisipasi masyarakat. Dari total sasaran lebih dari satu juta jiwa, baru sekitar 113 ribu warga yang memeriksakan diri ke puskesmas. Padahal, hasil skrining awal menunjukkan bahwa ancaman penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes mengintai banyak warga, terutama kelompok dewasa dan pra-lansia.
90 Persen Kasus Dipicu Pola Hidup Tidak Sehat
Yosei Susanti menyebut bahwa 90 persen penyebab hipertensi dan diabetes berasal dari gaya hidup yang tidak sehat. "Salah satunya merokok," kata Yosei di Tanjungpinang, Rabu.
Dinkes Kepri pun gencar melakukan penyuluhan pola hidup sehat ke masyarakat. Warga diedukasi untuk rutin makan buah dan sayur, ikan, olahraga teratur, memperbanyak minum air putih, serta tidak merokok.
Warga Terdeteksi Sakit Langsung Dirujuk ke Puskesmas
Bagi peserta CKG yang terdeteksi mengidap hipertensi atau diabetes, Dinkes Kepri langsung mengarahkan mereka untuk berobat ke puskesmas terdekat. Jika diperlukan tindakan medis lebih lanjut, pasien bisa dirujuk ke rumah sakit.
Yosei memperingatkan bahwa kedua penyakit ini bisa memicu komplikasi serius jika tidak terkontrol. "Termasuk penyakit jantung, stroke, kerusakan ginjal, masalah mata, hingga saraf," ungkapnya.
Tantangan Geografis dan Rendahnya Partisipasi Warga
Program CKG di Kepri menghadapi kendala teknis di lapangan. Proses penginputan data secara online yang dilakukan puskesmas memerlukan stabilitas sinyal, terutama di pulau-pulau terluar. Kondisi geografis ini memengaruhi kelancaran pelaporan hasil skrining.
Tantangan lainnya adalah tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah. Dinkes Kepri pun menyiapkan strategi jemput bola dengan melayani CKG di titik-titik tertentu agar akses warga lebih mudah.
"Program CKG sangat penting untuk tindakan skrining kesehatan supaya pemerintah lebih mudah melakukan upaya pencegahan sekaligus deteksi dini penyakit di masyarakat," demikian Yosei.