Pencarian

Mendikdasmen Abdul Mu'ti Sebut Era Soeharto Jadi Fondasi Pendidikan, Soroti Pengentasan Buta Aksara

Rabu, 24 Juni 2026 • 12:30:31 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Sebut Era Soeharto Jadi Fondasi Pendidikan, Soroti Pengentasan Buta Aksara
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyoroti program pengentasan buta aksara sebagai fondasi pendidikan Indonesia.

KEPULAUAN RIAU — Abdul Mu'ti secara khusus menyoroti dua program utama warisan era Soeharto: pemberantasan buta aksara dan perluasan akses pendidikan dasar. Menurutnya, pada masa itu pemerintah menghadapi tantangan literasi yang masif, sehingga kebijakan yang diambil menjadi landasan bagi pembangunan sumber daya manusia di periode selanjutnya.

"Jasa-jasa beliau itu saya kira tidak dapat kita abaikan dan menjadi fondasi penting untuk memajukan pendidikan di Indonesia," ujar Abdul Mu'ti dalam sambutannya di acara yang digelar Universitas Trilogi bekerja sama dengan Kemendikdasmen.

Program Pengentasan Buta Aksara dan Pendidikan Dasar Jadi Sorotan

Dalam paparannya, Mendikdasmen menekankan bahwa sumbangan terbesar Soeharto di sektor pendidikan adalah keberhasilan menekan angka buta huruf. "Dalam konteks pendidikan memiliki sumbangan dan jasa yang sangat penting, terutama dalam program pengentasan buta aksara dan pemenuhan pendidikan dasar," tuturnya.

Data historis menunjukkan bahwa pada awal 1970-an, tingkat buta aksara penduduk Indonesia masih di atas 40 persen. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) SD dan program wajib belajar, pemerintah Orde Baru berhasil membangun puluhan ribu sekolah dasar di seluruh pelosok negeri, sebuah capaian yang hingga kini masih menjadi referensi kebijakan.

Lomba Sketsa dan Rekor MURI: Apresiasi Tanpa Polemik Politik

Acara yang menjadi momentum pernyataan Abdul Mu'ti itu adalah lomba menggambar sketsa wajah Soeharto yang memecahkan rekor MURI. Kegiatan ini digelar untuk memperingati 105 tahun kelahiran Soeharto. Menurut Mendikdasmen, inisiatif Universitas Trilogi layak diapresiasi karena mengingatkan generasi muda pada kontribusi konkret tokoh bangsa di masa lalu.

"Gelaran lomba ini patut diapresiasi. Sebabnya, Soeharto memiliki jasa sangat besar bagi kemajuan dan pembangunan bangsa Indonesia," kata Abdul Mu'ti, menambahkan bahwa apresiasi terhadap sejarah tidak harus selalu dibingkai dalam perdebatan politik.

Konteks Kebijakan: Warisan yang Masih Terasa

Pernyataan Mendikdasmen ini muncul di tengah diskursus publik tentang evaluasi kurikulum dan anggaran pendidikan 2026. Meskipun tidak secara langsung menyinggung kebijakan kontemporer, pengakuan terhadap fondasi era Orde Baru menjadi sinyal bahwa pemerintah saat ini masih merujuk pada keberhasilan program Inpres SD sebagai model perluasan akses.

Di sisi lain, pengamat pendidikan menilai bahwa meskipun pengentasan buta aksara berhasil, era Soeharto juga meninggalkan pekerjaan rumah berupa kesenjangan kualitas antarwilayah dan politisasi birokrasi pendidikan. Namun, Abdul Mu'ti dalam kesempatan itu tidak membahas sisi kritis tersebut, dan memilih fokus pada capaian historis yang terukur.

Acara di Universitas Trilogi itu sendiri berlangsung meriah dengan partisipasi ratusan mahasiswa dan seniman. Rekor MURI yang dicatatkan adalah kategori lomba menggambar sketsa wajah tokoh nasional dengan peserta terbanyak dalam satu lokasi.

Bagikan
Sumber: inews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks