Pencarian

Dosen Unisri Soroti Fenomena Feed Instagram Gen Z yang Makin Sepi, Beralih ke Second Account dan Close Friends

Selasa, 23 Juni 2026 • 16:09:01 WIB
Dosen Unisri Soroti Fenomena Feed Instagram Gen Z yang Makin Sepi, Beralih ke Second Account dan Close Friends
Dosen Unisri menjelaskan tren Gen Z yang lebih memilih second account dan Close Friends daripada feed Instagram.

SURAKARTA — Tidak sedikit akun Instagram milik Generasi Z yang memiliki ribuan pengikut, namun hanya berisi beberapa unggahan di feed. Sebaliknya, mereka justru aktif membagikan aktivitas sehari-hari melalui Instagram Story, fitur Close Friends, atau akun kedua yang dikenal sebagai second account.

Fenomena ini, menurut Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Silvi Aris Arlinda SIKom MIKom, menarik untuk dikaji. Di tengah budaya digital yang semakin berkembang, generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet justru semakin jarang menggunakan feed sebagai ruang ekspresi.

Feed Dianggap Terlalu Permanen dan Mudah Mengundang Penilaian

Beberapa tahun lalu, feed Instagram merupakan etalase digital yang penting. Orang berlomba mengunggah foto terbaik dan mengatur tampilan grid agar terlihat estetik demi mendapatkan pengakuan sosial. Namun pola tersebut mulai berubah.

Bagi banyak Gen Z, feed kini bukan lagi ruang yang nyaman. Feed dianggap terlalu permanen, terlalu terbuka, dan mudah mengundang penilaian dari berbagai pihak—mulai teman sekolah, keluarga, dosen, hingga rekan kerja.

Akibatnya, aktivitas sederhana seperti mengunggah foto berubah menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan berkali-kali. Pertanyaan seperti "Nanti dikira pamer tidak ya?" atau "Terlalu alay tidak ya?" kerap muncul sebelum memposting sesuatu.

Second Account Jadi Ruang Alternatif yang Lebih Autentik

Di sinilah fenomena second account muncul. Bagi sebagian Gen Z, akun kedua menjadi ruang yang lebih aman untuk menampilkan diri apa adanya. Mereka dapat mengunggah foto yang tidak sempurna, mengeluhkan tugas kuliah, atau membagikan hal-hal lucu tanpa khawatir dinilai oleh banyak orang.

Menurut Silvi, perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran cara generasi muda memaknai media sosial. Jika dahulu media sosial digunakan untuk membangun citra diri di hadapan publik luas, kini banyak pengguna lebih nyaman berinteraksi dalam lingkaran yang lebih kecil dan lebih dekat.

Paradoks Personal Branding di Era Digital

Fenomena ini terjadi di saat personal branding semakin sering dibicarakan. Banyak pakar menekankan pentingnya membangun jejak digital yang positif. Namun di sisi lain, muncul budaya digital yang kerap memberikan stigma negatif terhadap orang yang terlalu aktif menampilkan dirinya.

Unggahan mengenai prestasi dapat dianggap pamer. Dokumentasi aktivitas bisa dianggap mencari perhatian. Situasi ini menciptakan paradoks: generasi muda didorong membangun personal branding, tetapi hidup dalam budaya yang cepat memberikan penilaian terhadap setiap unggahan.

Tidak mengherankan jika banyak Gen Z kemudian memilih jalan tengah. Mereka tetap aktif bermedia sosial, tetapi aktivitas tersebut dipindahkan ke Story, Close Friends, atau second account yang audiensnya lebih terbatas.

"Dalam perspektif komunikasi, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dari budaya publik menuju budaya semi-privat," tulis Silvi dalam opini yang dimuat Kepri.co.id. Media sosial tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai panggung untuk menunjukkan diri, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kenyamanan bersama kelompok yang dianggap aman.

Pada akhirnya, sepinya feed Instagram Gen Z bukan berarti mereka tidak ingin berbagi cerita. Mereka tetap aktif berkomunikasi dan mengekspresikan diri, hanya lebih selektif menentukan kepada siapa cerita itu dibagikan. Feed boleh semakin sepi, tetapi percakapan di balik layar justru semakin ramai.

Bagikan
Sumber: kepri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks