Pencarian

Rumah Tenun Pulau Payung Dorong Pelestarian Budaya dan Kemandirian Ekonomi Warga Pelalawan

Senin, 26 Januari 2026 • 13:55:02 WIB
Rumah Tenun Pulau Payung Dorong Pelestarian Budaya dan Kemandirian Ekonomi Warga Pelalawan
Pelestarian Budaya dan Kemandirian Ekonomi

Tenun merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Melayu. Lebih dari sekadar kain, tenun mengandung nilai historis, filosofi, serta pesan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, tradisi menenun tetap lestari dan menjadi identitas penting dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Upaya menjaga sekaligus mengembangkan tradisi tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Rumah Tenun Pulau Payung. Kelompok ini mendapat pendampingan dari Program Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian kearifan lokal.

Program ini sejalan dengan komitmen keberlanjutan APRIL2030, khususnya pada pilar Kemajuan Inklusif yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas masyarakat melalui berbagai inisiatif transformatif. Melalui dukungan pelatihan, peningkatan keterampilan, hingga penyediaan sarana produksi, Rumah Tenun Pulau Payung diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi berbasis potensi lokal.

Di balik berdirinya Rumah Tenun Pulau Payung pada tahun 2024, terdapat peran Yulhendra atau yang akrab disapa Ira. Sebagai ketua kelompok, Ira menjadi motor penggerak para perajin, memastikan kualitas produk, serta menjaga agar tradisi tenun Melayu tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Sebelum menekuni usaha tenun, Ira sempat berprofesi sebagai guru. Namun, seiring waktu, ia memutuskan untuk fokus mengembangkan Rumah Tenun Pulau Payung dengan dukungan penuh dari keluarga, khususnya sang suami.

“Awalnya saya hanya ingin melestarikan tenun Melayu yang semakin jarang ditemui, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat sekitar. Alhamdulillah, niat ini mendapat sambutan positif dari tim CD RAPP,” tutur Ira.

Pada fase awal pembentukan kelompok, CD RAPP memberikan dukungan berupa dua unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) beserta perlengkapan pendukung seperti kursi dan lemari pajangan. Dukungan ini tidak hanya terbatas pada penyediaan fasilitas, tetapi juga disertai pendampingan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, pada Desember 2025, CD RAPP kembali menyalurkan bantuan satu unit ATBM tambahan. Saat ini, Kelompok Usaha Rumah Tenun Pulau Payung telah memiliki total lima unit ATBM, yang terdiri dari tiga unit bantuan CD RAPP dan dua unit dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan.

Selain bantuan alat, CD RAPP juga secara rutin menghadirkan teknisi untuk perawatan ATBM serta mengadakan pelatihan bagi anggota kelompok. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan perajin, menjaga kualitas hasil tenun, dan memastikan keberlangsungan usaha.

“Kami memulai semuanya dari nol. Dukungan CD RAPP sangat berarti, mulai dari pelatihan selama tiga minggu di Pekanbaru hingga pendampingan setelah menerima ATBM,” ungkap Ira.

Pelatihan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Rumah Tenun Wan Fitri, sentra kerajinan tenun songket Melayu di Pekanbaru yang telah berdiri sejak 1993. Materi pelatihan mencakup pengenalan alat, ragam motif, hingga teknik menenun secara mendalam.

Ira mengakui bahwa proses awal tidak berjalan mudah karena sebagian anggota belum memiliki keterampilan menenun. Namun, berkat semangat belajar yang tinggi, kemampuan para perajin terus meningkat. Saat ini, setiap anggota mampu memproduksi sekitar tujuh hingga delapan lembar kain tenun setiap bulan.

Produk Rumah Tenun Pulau Payung terbagi ke dalam tiga kategori, yakni kain untuk busana atasan seperti blazer dan blouse dengan motif lebih sederhana, kain samping atau kain bawah dengan motif yang lebih padat, serta selendang sebagai pelengkap busana.

“Beberapa pelanggan meminta motif khusus seperti pucuk rebung atau tampuk manggis. Namun, secara umum kami memang fokus pada motif khas Melayu yang masing-masing memiliki makna dan cerita,” jelas Ira.

Setiap lembar kain diproduksi dengan panjang 2,5 meter. Kain untuk atasan dipasarkan dengan harga sekitar Rp750.000 per potong, kain bawah seharga Rp900.000 per lembar, sementara selendang dijual dengan harga Rp300.000.

Head of CD RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang, menyampaikan apresiasi atas konsistensi dan komitmen Rumah Tenun Pulau Payung. Ia menilai kekuatan utama kelompok ini terletak pada keseriusan menjaga kualitas produk serta upaya membangun jejaring pemasaran yang berkelanjutan.

“Rumah Tenun Pulau Payung menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Kami berharap usaha ini terus berkembang, menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan, sekaligus kebanggaan budaya bagi masyarakat Pelalawan,” ujar Ferdinand.

Dari sisi promosi, CD RAPP turut mendukung penguatan branding produk melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan internal dan pameran daerah. Pada ajang Pelalawan 2025, Rumah Tenun Pulau Payung berhasil meraih penghargaan sebagai runner up stan UMKM terbaik dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks