KEPULAUAN RIAU — Seorang jurnalis senior Windows Central yang telah menulis ribuan artikel mengaku masih mengandalkan alat proofreading digital untuk memeriksa tulisannya. Selama sebulan terakhir, ia membandingkan Microsoft Editor dengan Copilot (Microsoft) dan Gemini (Google) untuk mengoreksi artikel yang sudah jadi. Hasilnya cukup mengejutkan: kedua AI generatif ini jauh lebih peka terhadap nuansa bahasa Inggris yang rumit.
Dalam pengujian, Copilot menunjukkan kepribadian yang lebih hangat dan komunikatif. Ia sering memahami alur narasi sebuah artikel lebih baik dibanding Gemini, sehingga koreksi yang diberikan lebih relevan terhadap konteks paragraf. Copilot juga unggul dalam menganalisis tulisan opini dan memberikan saran untuk merestrukturisasi bagian tulisan.
Namun, sifat personal ini tidak selalu ideal. Copilot kerap menyelipkan pujian seperti "you hit the nail on the head" atau terlalu sering menggunakan kata "actually" dan em dash. Bagi pengguna yang hanya ingin koreksi langsung, ini bisa terasa seperti Clippy versi modern—mengganggu, bukan membantu.
Sebaliknya, Gemini terasa lebih seperti rekan kerja yang serius dan langsung ke inti. Saat diberi prompt yang sama, Gemini menghasilkan koreksi yang lebih teliti untuk masalah mekanis seperti typo, grammar, dan pemilihan kata yang salah. Ia mengingatkan pada Microsoft Editor yang sudah di-upgrade secara signifikan.
Kelemahan utama Gemini terletak pada basis data pelatihannya yang lebih lama. Ia sering salah mengoreksi nama produk karena tidak mengenali istilah terbaru. Solusinya, pengguna harus secara eksplisit memerintahkan Gemini untuk mencari di web agar konteksnya akurat. Copilot juga butuh dorongan serupa, tetapi lebih sedikit.
Microsoft Editor memang andal untuk typo umum, tapi gagal total di area yang membutuhkan pemahaman konteks. Contoh nyata: dalam dokumen yang membahas "Footballs wear down over time" (bola sepak bola aus seiring waktu), Editor menyarankan perubahan "over time" menjadi "overtime" (lembur). Padahal maknanya jelas berbeda. Copilot dan Gemini tidak terjebak oleh kesalahan itu.
Lebih parah lagi, Editor sering melewatkan kesalahan yang justru bisa ditangkap oleh Copilot dan Gemini, seperti mengetik "or" (atau) yang seharusnya "of" (dari). Kedua AI ini melihat dokumen dengan pemahaman konteks kalimat secara utuh, bukan sekadar aturan kaku if/then.
Copilot dan Gemini jelas lebih unggul dari Microsoft Editor untuk proofreading berbasis konteks. Namun, untuk pengguna di Indonesia yang menulis dalam bahasa Inggris, penting diingat bahwa kedua alat ini masih memiliki bias terhadap bahasa Inggris Amerika. Untuk penulisan bahasa Indonesia, belum ada pengujian serupa yang dilakukan secara mendalam.
Jika Anda seorang penulis atau editor yang sering bergulat dengan typo halus dan masalah tense, Copilot atau Gemini layak dipertimbangkan sebagai lapisan tambahan setelah koreksi manual. Tapi jangan pernah menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya pada AI—koreksi manusia tetap menjadi standar emas.