BATAM — Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung menyatakan sistem dua sif menjadi solusi sementara sembari pemerintah menambah kapasitas ruang kelas dan tenaga pendidik. Kebijakan itu diambil setelah SMK Negeri 8 Batam menerima limpahan peserta didik dari SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 1 Batam.
Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura meninjau langsung kondisi sekolah tersebut setelah menerima aduan orang tua murid terkait pembelajaran yang dilakukan di koridor. Menurut dia, keterbatasan ruang kelas membuat enam kelas harus mengikuti pembelajaran dengan sistem dua sif.
Andi Agung menjelaskan peningkatan jumlah peserta didik di SMK Negeri 8 Batam merupakan dampak dari penataan penerimaan siswa di SMK Negeri 5 Batam. Sebelumnya, SMK 5 menerima sekitar 1.800 siswa per tahun, melampaui ketentuan pusat yang membatasi maksimal 24 rombongan belajar atau 960 siswa.
"Karena di SMK 5 itu awalnya setiap tahun 1.800 orang, kita dapat teguran pusat. Maka sesuai dengan koridor yang ada bahwa SMK itu maksimal ada 24 rombel, jadi 960 siswa. Maka tersebar ke beberapa sekolah termasuk SMK 8," kata Andi Agung.
Limpahan itu membuat SMK Negeri 8 Batam menerima 23 kelas pada tahun ajaran 2026/2027, naik dari sebelumnya hanya 13 kelas. Kebutuhan ruang kelas dan guru pun ikut meningkat tajam.
Kepala SMK Negeri 8 Batam Soleha Nurul Baria menyebut pembelajaran di koridor telah berlangsung sejak Agustus dan melibatkan enam kelas dengan jumlah siswa sekitar 38 hingga 40 orang per kelas. Kondisi itu muncul karena sekolah kekurangan ruang kelas sekaligus tenaga pendidik.
"Lonjakan peserta didik di tahun 2026-2027 ini sangat luar biasa. Yang tadinya kita hanya terima 13 kelas, tapi tahun ini 23 (kelas). Seiring dengan kekurangan kelas kemudian kekurangan guru, kita solusi sementara sembari menunggu adanya guru baru kita belajar di luar, kita manfaatkan koridor," ujar Soleha.
Meski demikian, sekolah mulai mendapatkan tambahan tenaga pendidik. Sebanyak empat guru baru telah bergabung dalam beberapa hari terakhir, dan jumlah guru diharapkan mencapai 20 orang pada Oktober mendatang.
"Bulan depan sudah bisa dua sif," kata Soleha.
Pemprov Kepri terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait pembangunan ruang kelas baru. Pada 2026, Kepri memperoleh alokasi sekitar Rp 100 miliar untuk pembangunan ruang kelas baru yang dipersiapkan melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Nyanyang menyatakan pemerintah daerah sudah menyiapkan langkah bersama ketua komite, Disdik, dan kepala sekolah. Apabila 32 ruang kelas sudah tersedia di SMK Negeri 8 Batam, seluruh peserta didik dapat kembali mengikuti pembelajaran pada pagi hari.
"Kami sudah siapkan untuk ketua komite, Disdik dan kepala sekolah. Kita utamakan kualitas pendidikan SMK Provinsi Kepri, di Batam. Harapan kami dengan sinergi tersebut bisa membuat anak-anak belajar lebih semangat lagi," ujarnya.
Andi Agung menambahkan peserta didik kelas XII saat ini telah menjalani praktik sehingga penggunaan ruang kelas dapat diatur untuk mengurangi kepadatan. SMK Negeri 8 Batam juga telah mengikuti pra-bimbingan teknis untuk program bantuan pembangunan, dengan harapan memperoleh dukungan ruang kelas dan fasilitas praktik.