JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, melemah 34 poin menjadi Rp 18.014 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.980. Pelemahan ini menjadikan rupiah salah satu mata uang Asia yang paling tertekan di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengaitkan langsung pelemahan rupiah dengan aksi militer terbaru Amerika Serikat. Komando Pusat AS (Centcom) telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran yang diklaim bertujuan memberikan “biaya berat” atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial di kawasan.
“Eskalasi yang terus berlanjut memunculkan masalah pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.
Serangan tersebut terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional. Langkah ini, menurut Ibrahim, menandakan pasar minyak akan semakin ketat dalam beberapa pekan mendatang—kondisi yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi negara importir minyak seperti Indonesia.
Sebelumnya, Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz, meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu lebih banyak ketidakpastian tentang status jalur air penting tersebut.
“Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” tambah Ibrahim.
Ketidakpastian yang berkepanjangan ini diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini mencermati setiap perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran, sembari menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia untuk menstabilkan kurs di tengah tekanan eksternal yang kian berat.