BP Batam Gandeng BRIN untuk Riset Ketahanan Air, Batam Tak Punya Sungai dan Hutan

Penulis: Bastian Sihombing  •  Senin, 22 Juni 2026 | 14:28:02 WIB
BP Batam dan BRIN menandatangani kerja sama riset untuk pengelolaan sumber daya air di Batam.

BATAMBP Batam dan BRIN resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pemanfaatan Riset dan Inovasi serta Pengkajian Pembangunan Batam Science and Technology Park. Penandatanganan itu dilakukan di Batam, Senin, sebagai komitmen bersama menghadirkan solusi berbasis riset untuk kebutuhan industri dan masyarakat.

Mengapa Batam Sangat Bergantung pada Riset Air?

Anggota/Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam Sudirman Saad menjelaskan bahwa kondisi geografis Batam menjadi alasan utama kolaborasi ini. “Kami tidak memiliki hutan maupun sungai. Pasokan air sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung di delapan waduk,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Menurut Sudirman, inovasi, digitalisasi, dan pengelolaan daerah tangkapan air menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Dukungan riset dari BRIN dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan Batam sebagai kawasan industri dan investasi yang terus berkembang.

Ruang Lingkup: dari Energi hingga Industri Hijau

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN R. Hendrian mengatakan kerja sama ini mencakup sejumlah isu strategis. Mulai dari pengembangan Batam Science and Technology Park, pengelolaan energi dan sumber daya air, teknologi sirkular, industri maritim berkelanjutan, hingga industri hijau.

“Kami berharap hasil riset dan inovasi BRIN dapat memberikan kontribusi nyata bagi Batam. Berbagai potensi yang ada harus diwujudkan menjadi solusi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun dunia industri,” kata Hendrian.

Sepuluh Aktivitas Riset dalam Tiga Tahun ke Depan

Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN Asep Riswoko menambahkan bahwa kolaborasi ini melibatkan tujuh riset dari lima pusat riset BRIN serta tiga unit teknis dari BP Batam. Sebanyak sepuluh aktivitas dari enam topik utama telah dirumuskan untuk dilaksanakan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

“Seluruh aktivitas tersebut dirancang agar hasil riset dapat diimplementasikan secara langsung untuk mendukung pengembangan kawasan Batam,” ujar Asep. Peta jalan telah disusun secara bertahap untuk memastikan setiap tahapan riset tepat sasaran.

BRIN: Riset Harus Jembatani Kesenjangan dengan Industri

Kepala BRIN Arif Satria menilai kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan industri—yang kerap disebut sebagai valley of death. “BRIN ingin menjadi think tank bagi pemerintah dengan membantu mengidentifikasi persoalan dan menawarkan solusi berbasis teknologi,” kata Arif.

Ia menekankan bahwa riset harus menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan industri dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan mampu menarik investasi yang lebih besar ke Batam sekaligus mendorong transformasi industri yang lebih hijau.

Melalui kerja sama ini, BP Batam berharap hasil riset dan inovasi dapat menjadi solusi konkret dalam memperkuat ketahanan sumber daya air, mendorong transformasi industri yang lebih hijau, dan mendukung pertumbuhan investasi yang berkelanjutan di Kepulauan Riau.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: kepri.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top