15 Tahun Bertahan, Tanjungpinang Akhirnya Buka Pintu untuk Indomaret: Tiga Gerai Beroperasi per Juni 2026

Penulis: Ronal Siregar  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:10:31 WIB
Wali Kota Tanjungpinang resmi membuka tiga gerai Indomaret pertama pada Juni 2026.

TANJUNGPINANG — Keputusan ini diumumkan di tengah ironi: Wali Kota Lis Darmansyah, yang pada periode pertamanya (2013–2018) menjadi wajah penolakan terhadap Indomaret dan Alfamart, kini justru memimpin pembukaan pintu tersebut. Penggantinya, Wali Kota Rahma pada 2023, dan Penjabat Wali Kota Hasan, juga pernah menegaskan bahwa ritel modern “belum dibutuhkan” demi melindungi pedagang kecil.

Syarat Khusus yang Dipasang Pemkot

Pemerintah kota tidak serta-merta menyerah tanpa syarat. Sejumlah ‘rem’ dipasang dalam izin operasional ini. Gerai wajib mempekerjakan penduduk ber-KTP Tanjungpinang, wajib menampung dan memasarkan produk Industri Kecil Menengah (IKM) lokal di rak mereka, dan disebut harus menggunakan penamaan berciri lokal.

Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu Ilmu Sosial (HIPIIS) Kepri, Robby Patria, memotong pita tanda beroperasinya ritel modern tersebut. Pemerintah kota membingkai kebijakan ini sebagai upaya menyeimbangkan kebutuhan investasi dengan perlindungan ekonomi rakyat.

Janji di Atas Kertas vs Realitas Lapangan

Namun, pengalaman di daerah lain menunjukkan celah antara janji dan praktik. Produk IKM lokal kerap hanya ditempatkan di satu-dua rak simbolis di pojok gerai, sementara rak utama tetap didominasi produk pabrikan nasional dengan rantai pasok yang sudah dikuasai jaringan. Soal tenaga kerja lokal, porsi yang dijanjikan tidak selalu setara dengan jumlah pegawai yang benar-benar terserap dari warga setempat.

“Kota ini miskin investasi. Anak-anak muda yang baru lulus kuliah harus merantau mencari kerja di perusahaan,” ujar Robby Patria kepada media, mengungkapkan harapannya agar tenaga kerja di supermarket itu semuanya lokal.

Ancaman Nyata bagi Pedagang Kecil

Kekhawatiran terbesar justru datang dari para pedagang kecil. Mereka menyoroti bahwa pemerintah kota lebih sigap membuka pintu bagi ritel modern ketimbang menyediakan pasar tradisional yang memadai. Di kawasan Tanjungpinang Timur dan Bukit Bestari, fasilitas pasar masih minim.

Pengalaman di hampir seluruh Indonesia menunjukkan pola konsisten: kehadiran minimarket berjaringan menggerus omzet toko kelontong di sekitarnya, terutama dalam radius beberapa ratus meter. Indomaret datang dengan tiga keunggulan—harga relatif lebih murah berkat volume pembelian besar, kenyamanan ruang ber-AC dengan barang lengkap, dan jam operasional panjang.

Toko kelontong, yang mengandalkan modal terbatas dan margin tipis, menjadi yang paling rentan. Warung yang menjual kebutuhan harian seperti rokok, minuman ringan, sabun, dan makanan ringan kemasan adalah kategori yang paling tertekan. Yang biasanya bertahan hanyalah kelontong yang menjual kebutuhan dapur basah, melayani utang tetangga, atau berlokasi di gang sempit yang tak terjangkau gerai modern.

Bisakah Supermarket Lokal Bertahan?

Ironi lain muncul dari kalangan pengusaha setempat. Saat ngopi dengan media, salah satu pemilik supermarket di Tanjungpinang meragukan daya tahan supermarket modern di kota ini. Menurutnya, model masyarakat Tanjungpinang berbeda dengan masyarakat Batam. “Dia tak yakin supermarket ini bisa bertahan lama,” tulis media lokal mengutip pernyataan pengusaha tersebut.

Jumlah gerai Indomaret di seluruh Indonesia mencapai 24.072 pada kuartal pertama tahun 2026, meningkat dari sekitar 22.682. Ekspansi ke Tanjungpinang direncanakan bertahap hingga belasan gerai. Pertanyaannya kini bukan apakah ada dampak terhadap pedagang lokal, melainkan seberapa cepat dan seberapa dalam dampak itu akan terasa.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: katasiber.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top