BATAM — BP Batam memutuskan untuk mengurangi porsi belanja administratif dan mengalihkannya ke belanja modal yang produktif. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyatakan bahwa pagu indikatif tahun 2027 sebesar Rp2,437 triliun seluruhnya berasal dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Awalnya, anggaran terbagi menjadi dua program utama: dukungan manajemen sebesar Rp1,094 triliun dan pengembangan kawasan strategis sebesar Rp1,343 triliun.
"Kami usulkan pergeseran anggaran program Dukungan Manajemen sebesar Rp131,26 miliar atau sekitar 5 persen dari total pagu menuju program Pengembangan Kawasan Strategis. Ini mengurangi biaya operasional rutin dan dialihkan kepada belanja modal yang produktif," kata Amsakar dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Jumat.
Dana hasil pergeseran tersebut akan difokuskan pada tiga sektor utama. Pertama, pengembangan sumber daya air dan jaringan distribusi air minum. Kedua, infrastruktur lingkungan hidup, termasuk instalasi pengolahan air limbah dan pengelolaan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Ketiga, penguatan konektivitas darat seperti drainase dan infrastruktur jalan.
Amsakar menegaskan bahwa infrastruktur yang andal merupakan kunci untuk memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi. Menurutnya, ketika investasi tumbuh, lapangan kerja akan terbuka dan aktivitas ekonomi meningkat. Manfaatnya, kata dia, akan dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Infrastruktur yang andal akan memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi. Ketika investasi tumbuh, maka lapangan kerja terbuka, aktivitas ekonomi meningkat, dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Inilah yang menjadi fokus utama BP Batam dalam perencanaan anggaran Tahun 2027," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Amsakar memaparkan kinerja keuangan BP Batam hingga 15 Juni 2026. Realisasi PNBP tercatat mencapai Rp899,23 miliar atau 36,73 persen dari target tahunan. Angka ini meningkat 19,93 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, realisasi belanja BP Batam mencapai Rp546,75 miliar, tumbuh 19,64 persen dari periode yang sama tahun 2025. Amsakar menilai peningkatan PNBP mencerminkan aktivitas investasi dan ekonomi yang terus berkembang di Kota Batam. Ia juga menyebut peningkatan realisasi belanja menunjukkan percepatan pelaksanaan program pembangunan.
"Kami ingin mengoptimalkan penggunaan PNBP ini sehingga percepatan program pembangunan infrastruktur bisa terselesaikan dengan optimal," pungkasnya.