KEPULAUAN RIAU — Ajakan itu disampaikan Jumhur dalam Sarasehan Gerakan Menanam Bambu-Selamatkan Bumi di Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/6/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Dalam forum itu, ia menegaskan bahwa program penanaman dua miliar pohon merupakan agenda nasional untuk pemulihan ekosistem dan rehabilitasi lahan kritis.
Dalam skema besar tersebut, bambu ditempatkan sebagai vegetasi prioritas. Jumhur menjelaskan, tanaman ini memiliki fungsi ekologis ganda: menjaga tata air, mengendalikan erosi, hingga menyerap karbon. "Penanaman 2 miliar pohon ini adalah bagian dari gerakan tobat ekologis. Salah satu implementasinya adalah pengembangan bambu sebagai solusi berbasis alam yang mampu menjaga tata air, mengurangi erosi, dan menyerap karbon," paparnya dalam keterangan yang diterima Antara.
KLH/BPLH saat ini tengah memperkuat rehabilitasi lingkungan melalui peningkatan tutupan lahan dan pemulihan daerah aliran sungai (DAS). Ekonomi hijau berbasis masyarakat juga menjadi sasaran dari gerakan ini. "Gerakan Menanam Bambu Nusantara diharapkan menjadi salah satu penggerak utama dalam mendukung agenda tersebut secara berkelanjutan," ujar Jumhur.
Konsep tobat ekologis yang diusung Jumhur bukan sekadar retorika. Ia mendorong perubahan cara pandang manusia terhadap alam sebagai langkah fundamental. "Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata," kata Jumhur.
Menurutnya, berbagai tantangan seperti perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati menuntut respons yang lebih dari sekadar intervensi teknis. Perubahan perilaku kolektif dinilai menjadi kunci keberlanjutan program.
Ketua Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia Abah Jatnika menambahkan, bambu bukan hanya tanaman konservasi. "Mulai dari arsitektur hingga seni musik angklung. Gerakan menanam bambu penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan," kata dia.
Menutup kegiatan, Jumhur mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan lingkungan tidak diukur dari jumlah pohon yang ditanam semata. "Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi memastikan gerakan ini hidup di tengah masyarakat. Bambu harus menjadi simbol kolaborasi dan harapan bahwa setiap orang bisa berkontribusi menjaga bumi," ucapnya.
KLH/BPLH mengajak seluruh elemen—pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat—untuk memperkuat gerakan penanaman dua miliar pohon. Tobat ekologis, menurut Jumhur, adalah fondasi untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.