KEPULAUAN RIAU — Keputusan buyback ini diumumkan di tengah tekanan jual yang masih membayangi indeks bursa saham Indonesia. BRI bergerak cepat dengan menyiapkan anggaran setengah triliun rupiah untuk menyerap kembali sahamnya yang beredar di publik. Langkah ini lazim dilakukan korporasi saat harga saham dinilai terlalu murah dibandingkan nilai intrinsik perusahaan.
Fluktuasi pasar yang dipicu oleh sentimen global dan domestik membuat harga saham perbankan tertekan. BRI menilai kondisi ini tidak sebanding dengan kinerja keuangan perseroan yang masih tumbuh positif. Alokasi buyback menjadi instrumen untuk menjaga kepercayaan investor dan menstabilkan harga di level yang lebih wajar.
Manajemen BRI melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa pembelian kembali saham ini akan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Prosesnya akan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlaku. Dana Rp 500 miliar tersebut akan digunakan secara bertahap, tergantung pada kondisi pasar setiap harinya.
Bagi investor ritel maupun institusi, buyback biasanya menjadi katalis positif. Aksi korporasi ini mengurangi jumlah saham beredar (outstanding shares) sehingga berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS). Selain itu, aksi ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kas yang cukup dan optimistis terhadap prospek bisnis ke depan.
Sepanjang tahun ini, harga saham BBRI memang bergerak fluktuatif dengan tekanan yang cukup signifikan. Dengan adanya buyback, diharapkan tekanan jual bisa berkurang karena BRI sendiri yang menjadi pembeli di pasar. "Kami melihat peluang untuk meningkatkan nilai pemegang saham melalui pembelian kembali saham di harga yang menarik," demikian pernyataan resmi manajemen BRI dalam siaran persnya.
Proses buyback akan dimulai setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mendatang. Manajemen menargetkan pelaksanaan pembelian saham bisa rampung dalam beberapa bulan ke depan. Dana segar sebesar Rp 500 miliar sudah disiapkan dan tidak akan mengganggu likuiditas operasional maupun pembagian dividen tahun ini.
Langkah BRI ini menjadi salah satu yang terbesar di sektor perbankan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah BUMN lain juga dipantau akan melakukan langkah serupa jika tekanan pasar belum mereda. Dengan fundamental kredit yang terjaga dan laba yang masih bertumbuh, buyback diyakini menjadi strategi yang tepat di tengah ketidakpastian pasar saat ini.