KEPULAUAN RIAU — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS bukan hanya menjadi momok bagi sektor keuangan, tetapi juga industri telekomunikasi. Vice President Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, mengungkapkan bahwa fluktuasi kurs menjadi faktor eksternal yang paling krusial untuk dikelola perusahaan.
"Mengingat sebagian kebutuhan seperti pengadaan perangkat jaringan maupun teknologi masih memiliki komponen berbasis valuta asing," ujar Fahmi kepada Katadata.co.id, Kamis (11/6). Berdasarkan data Bloomberg, pada pagi hari yang sama, rupiah diperdagangkan di level Rp 17.968 per dolar AS, menguat tipis 0,14 persen dari penutupan sebelumnya.
Alih-alih panik, Telkomsel menyiapkan sejumlah jurus jitu. Fahmi mengatakan perusahaan mengantisipasi dinamika kurs sebagai bagian integral dari perencanaan bisnis. Caranya dengan menerapkan perencanaan keuangan yang prudent, optimalisasi biaya secara ketat, dan pengelolaan investasi yang lebih selektif serta terarah.
“Ini sekaligus memperkuat kualitas layanan agar tetap relevan dan bernilai bagi pelanggan,” tambahnya. Strategi ini disebutkan tercermin dari profitabilitas perusahaan yang terjaga dan menunjukkan tren perbaikan pada paruh kedua tahun 2025.
Pelemahan rupiah kali ini bukan sekadar dampak global. Riset terbaru Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyebut ada empat faktor utama yang saling bertumpuk. Pertama, tensi geopolitik usai operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak Brent hingga 27 persen, menyentuh US$ 118,35 per barel pada puncaknya.
Kedua, kepercayaan pasar terhadap fiskal Indonesia yang memburuk. Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings secara beruntun mengeluarkan peringatan, bahkan Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif” pada Februari lalu. Ketiga, ketidakpastian kebijakan pemerintah yang dianggap mendadak, seperti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) yang mengatur sistem ekspor satu pintu komoditas strategis.
Di tengah tekanan eksternal yang kompleks, Telkomsel tidak hanya mengandalkan efisiensi biaya klasik. Perusahaan juga mulai mengintegrasikan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam operasionalnya. Fahmi menegaskan, ke depan fokus utama perusahaan adalah penguatan layanan broadband dan pengembangan ekosistem digital.
“Telkomsel akan terus berkomitmen menghadirkan layanan digital yang relevan dan bernilai, sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung transformasi digital nasional,” pungkasnya. Dengan strategi ganda ini, Telkomsel berharap bisa tetap tumbuh berkelanjutan meskipun rupiah masih bergerak liar di pasar.