Kapar Limbah Kayu Apung di Natuna Disulap Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi, Begini Caranya

Penulis: Bastian Sihombing  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:56:31 WIB
Warga Natuna mengolah kayu apung menjadi kerajinan bernilai ekonomi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

NATUNA — Kayu apung yang selama ini dikenal sebagai kapar dan hanya dianggap limbah laut mulai mendapat perhatian serius. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, limbah ini justru disulap menjadi peluang ekonomi kreatif bagi warga pesisir.

Komandan Lanud Raden Sadjad (RSA), Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, membuka langsung rangkaian kegiatan yang berlangsung di kawasan pesisir Natuna. Acara tidak berhenti pada aksi bersih pantai, tetapi juga memberikan edukasi tentang pemanfaatan limbah bernilai ekonomi.

Limbah Kayu Disulap Jadi Hiasan Dinding dan Gantungan Kunci

Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, memperagakan langsung proses pengolahan kapar di hadapan warga Kota Tua Penagi dan Ranai Darat. Ia menunjukkan tahapan pemilihan kayu yang layak, pembersihan, pengeringan, hingga perakitan menjadi produk siap jual.

“Jika kegiatan hanya berhenti pada aksi bersih pantai, maka dalam waktu singkat kondisi yang sama bisa kembali terjadi. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk memahami bagaimana limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Abdul Rahman.

Kayu apung yang tadinya tak berguna kini dapat disulap menjadi beragam kerajinan. Mulai dari hiasan dinding, gantungan kunci, hingga pajangan dekoratif yang punya nilai jual di pasaran.

Sinergi Instansi Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Lingkungan

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas instansi. Lanud RSA, Kejaksaan Negeri Natuna, Kantor SAR Natuna, BMKG Ranai, RRI Ranai, PIA Ardhya Garini Cabang 9/D.I., dan Dharma Wanita Persatuan SAR Natuna turut ambil bagian. Sinergi ini menjadi bentuk komitmen bersama membangun kesadaran lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir.

Abdul Rahman menekankan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi momentum perubahan berkelanjutan, khususnya di wilayah perbatasan seperti Natuna.

“Perbatasan tidak hanya membutuhkan lingkungan yang bersih, tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga dan mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri,” katanya.

Melalui pemanfaatan kapar menjadi produk kreatif, warga diajak melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: kutipan.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top